9 Hal Yang Belum Kamu Tahu Soal 'LDR'

LDR itu bukan suatu hal yang baru lho,guys.


Ingat tidak, saat Adam dan Hawa diturunkan di bumi di dua tempat yang berbeda—saat itu saja mereka sudah menjalani LDR lho! Tapi terbukti kan, bagaimana mereka akhirnya survive? Karena mereka tetap optimis dan pantang menyerah demi cintanya satu sama lain.

So, kalau ada yang meragukan LDR kalian, bilang saja “Adam dan Hawa saja bisa survive tanpa koneksi internet dan signal hape. Tentunya kita pasti lebih bisa lagi!”

Tapi tetap saja, bagaimana sih sebenarnya LDR itu? Kenapa rasanya banyak sekali masalah yang terjadi, yang tidak kita pahami, ya?

Maka simak hasil wawancara dan studi buku gue soal LDR berikut ini! J



“LDR itu susah nggak sih?”
“Walau sudah diperkirakan, tetap saja butuh 6 bulan untuk beradaptasi, menata situasi dan perasaan yang benar-benar berbeda.” K-cewek
 “Yang pasti selalu kena penyakit kangen, sering sedih sendiri. Nggak ada yang selalu ngasih semangat.” R-cewek.
“Nggak mungkin nggak galau kalau kita sayang sama si pacar. Galau itu kan karena kita punya suatu perasaan yang nggak bisa terlampiaskan atau terwujud. Seperti kangen yang ditahan hanya dalam hati.”
Sebenarnya LDR itu sama saja dengan sistem pacaran lainnya. Ada dua orang yang saling mencintai, yang ingin selalu bersama dan mempertahankan hubungannya. Hanya saja dalam LDR, ada sesuatu bernama ‘jarak’ (hasek) yang memisahkan dua orang ini.

Dan karena pada dasarnya dua orang itu masih ingin saling mencintai, ingin selalu bersama, dan ingin mempertahankan hubungannya, maka timbullah masalah-masalah terkait karena bentangan jarak ini.
“Karena nggak bisa ketemu langsung, jadi was-was, takut banget kalau dia bohong.” D-cewek
“Suka rada iri ngeliat pasangan lain yang bisa gandengan, peluk pacarnya. Pulsa jadi boros. Emosi kadang labil, pingin marah, tapi nggak tahu kenapa dan sama siapa.” D-cewek
Pertengkaran yang ada juga bukannya jadi lebih meningkat atau bagaimana. Dari seluruh korespoden yang gue dapatkan, mereka mengaku sebenarnya sama saja. Yang awalnya jarang bertengkar ya tetap jarang bertengkar. Yang sering bertengkar juga masih tetap sering bertengkar. Hanya saja topik permasalahannya jadi berbeda.
“Saat LDR memang sering salah paham, apalagi soal telfonan atau sms, karena kita tidak bisa saling melihat ekspresi dan bahasa tubuh satu sama lain. Karena bisa terjadi salah paham, tidak mengerti maksud sebenarnya apa, jadinya bertengkar, deh.” W-cowok

Mengapa Cowok Berubah jadi Makhluk-Cemburuan
“kita pasti merasa cemburu jika pacar kita dekat dengan cowok lain—sekalipun kita tahu cowok itu siapa! Itu karena kita merasa bahwa kita sendiri aja nggak bisa jalan atau main dengan cewek kita, sementara si ‘cowok itu’ bisa!” A-cowok
Kalau dibilang cowok itu cemburu-buta, bisa dibilang benar sih. Para cowok menganggap semua cowok yang berada dalam radius 100 meter dari kekasihnya adalah saingan! Kalau para cewek cemburu pada hubungan ‘lebih’ seperti sapaan kelewat akrab atau intensitas wall-to-wall yang kelewat sering, cowok justru mencemburui semua cowok yang ada di dekat pacarnya.
“Bisa saja cewek kita menganggap dia dan cowok itu ‘teman biasa’. Kita percaya kok! Tapi apa iya, cowok itu juga menganggap cewek kita ‘teman biasa’? kalau dia mau merebut gimana? Apalagi kondisi kita jauh, dan nggak bisa selalu ketemu. Ya tentu takutlah cewek kita bakal berpaling!” A-cowok

Mengapa Cowok kerap ‘Meledak’ dan Cewek kerap ‘Mengungkit Masalah’

Dalam mengontrol emosi, cowok itu seperti kompor. Cepat panas dan cepat dingin. Saat tengah panas, biasanya apapun yang diucapkan ceweknya, cenderung ‘lewat begitu saja’. Karena pada saat mereka panas, cowok akan sangat ‘bebal’, ‘tidak mau mendengar’, hingga ‘meledak-ledak’. Karena satu hal yang mereka tahu—mereka harus melampiaskan rasa marah dan emosi itu hingga tuntas. Mereka bahkan bisa saja memaki ceweknya, atau mengucapkan kata-kata dan tindakan yang tidak seharusnya ia lakukan.

Itulah sebabnya saat cowok marah, sebaiknya ceweknya menenangkan dan jangan terlalu mengambil hati saat si cowok meledak dalam amukan, bahkan saat mengeluarkan kata-kata yang kasar atau tajam.

Kenapa? Karena jika si cewek marah, si cowok hanya akan semakin panas. Apapun yang dikatakan si cewek tak akan begitu didengar hingga rasanya percuma! Itulah sebabnya, tunggulah hingga si cowok dingin, lalu jelaskan masalahnya.

Kelebihannya, cowok tidak akan mengungkit masalah ini lagi jika mereka sudah merasa ‘clear’. Cowok memang tidak mudah memaafkan, tapi mereka gampang melupakan.
“Kalau cowok lagi marah, cewek jangan ikutan marah, karena nggak akan selesai.” A-cowok
Sementara cewek ibarat oven dalam mengontrol emosi. Lama panas dan lama dingin. Ia mungkin tidak akan sekasar cowok, hanya saja bisa lebih histeris dan melodramatis. Ia akan cepat memaafkan, namun bisa ngambek berhari-hari walau sudah ‘memaafkan’. Ia bisa mengungkit lagi masalah ini pada pembahasan masalah ‘lain’ di masa depan—walau masalah ini sudah clear.

Cewek memang gampang memaafkan, tapi ia tidak mudah melupakan. Itulah sebabnya bagi cowok, penting untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama atau sejenis. Jangan pula membahas masalah ini tanpa beban walaupun sudah dibilang ‘clear’—karena bagi cewek, sampai kapanpun rasa sakit hati dan marah atas masalah ini akan berlangsung sampai kapanpun!

Mengapa Cowok Sering ‘Sok Sibuk’
“Aku sering heran, temennya saja bisa chat seru sama aku, sementara dia—orang yang diharapkan untuk muncul di chat itu—justru tidak ada. Padahal sama-sama tidak ada kegiatan!”C-cewek
Pernah nggak sih, kalian baru saja melewatkan liburan bersama yang menyenangkan—lalu saat si cowok kembali ke daerahnya, ia justru mendadak menjadi dingin dan acuh? Si cewek akan mengirim puluhan sms yang hanya dibalas sesekali, dan alibi teraneh yang bisa diberikan cowok kalian adalah dia ‘sibuk’.

-,- puh hah.

Jadi, perlu para cewek mengerti bahwa saat cowok terlihat sok-sibuk atau kelihatannya banyak-kegiatan banget, sebenarnya bukannya mereka acuh atau jadi tak perduli dengan ceweknya. Tapi para cowok itu sebenarnya justru tengah berusaha ‘menguatkan’ diri mereka dengan melupakan rasa kangen yang menggila itu. Jika cewek ‘menenangkan’ perasaannya dengan berbicara soal perasaan mereka, cowok tidak bisa melakukan sesuatu yang ‘lemah’ seperti itu, maka mereka melakukan kegiatan fisik hingga perasaannya tenang!
“Untuk mengatasi galau akibat LDR itu, cowok melakukan hal yang berbeda dengan cewek. Kita biasanya menyibukkan diri dengan kegiatan saat galau-nya menyerang—agar tidak terlalu berasa!” A-cowok
Jadi tenanglah, ladies. Para cowok itu bukannya melupakan kalian. Hanya saja mereka memerlukan waktu untuk menenangkan diri dari shock akibat ‘perpisahan’ kemarin itu.
“Aku sebenarnya juga kangen. Kangen banget. Untung saja kegiatannya lagi banyak, jadi tidak terlalu berasa.” D-my pacar.

Mengapa SMS Bisa Membuat Keributan
Cewek paling merasa galau jika komunikasi diantara dia dan pacarnya tidak lancar. Itulah sebabnya mereka bisa sangat galau jika nama si cowok mulai jarang muncul di layar handphone atau laptopnya.

Karena bagi para cewek, lancarnya komunikasi adalah cerminan dari kondisi hubungan mereka. Para cewek terbiasa menilai bagus atau tidaknya—lancar atau tidaknya suatu hubungan dari komunikasi dua pihak tersebut. Saat ada masalah dengan komunikasi itu, ia akan bereaksi sangat keras karena ia mengira bahwa hubungan mereka juga tengah terancam.

Tidak heran, karena pada dasarnya perempuan adalah makhluk yang lebih sosialita dibandingkan para laki-laki. Mereka mengandalkan komunikasi untuk menjaga hubungan, kata-kata sebagai perekat. Itulah sebabnya saat intensitas sms atau telfon itu berkurang, bayangkan dong, bagaimana paniknya mereka.
“Kesibukannya sering membuat aku ngerasa kosong...” K-cewek
Itu sebabnya, jika cowok membutuhkan pengurangan intensitas komunikasi karena sibuk atau ‘sok sibuk’ sebaiknya jelaskan saja blak-blakan pada cewek kalian, bahwa kalian hanya sedang sibuk atau butuh waktu adaptasi, dan tak ada masalah serius pada hubungan kalian. Jangan sampai ia mengira hubungan kalian bermasalah lalu bereaksi keras!
“Ya kita tau sih, mereka capek atau kurang tidur, tapi seenggaknya smslah minimal sekali hanya untuk ngasih tau dia free tapi ingin tidur. Jangan sampai aku mikir ‘apa dia udah bosen ya?’.” C-cewek
Sebaliknya, cowok sendiri juga bukannya cuek-cuek saja jika intensitas smsnya berkurang. Coba tebak bagaimana reaksi mereka jika intensitas sms itu berkurang? Marah-marah nggak jelas, kan? Hahaha. Karena sebenarnya cowok itu sedih juga kalau smsnya tidak dibalas. Tapi karena cowok bukan makhluk yang bebas menunjukkan emosi ‘lemah’ seperti sedih dan menangis, mereka menunjukkan kesedihannya dengan marah-marah dan kesal.

Mengapa Cowok Membutuhkan ‘Laporan Rutin’
Bagi cowok, yang paling sering membuat mereka galau adalah saat ceweknya jalan dengan teman-temannya. Mereka bisa bereaksi ‘menyebalkan’ dengan memberondongi ceweknya dengan sederet pertanyaan “Sama siapa? Kemana? Berapa lama? Ada cowoknya nggak? Jangan macam-macam ya!”.

Saat inilah cewek biasanya jadi merasa bahwa si cowok terlalu ‘mengekang’ atau ‘curigaan’ bahkan terkesan tak percaya pada mereka. Padahal sebenarnya bukan begitu, lho!
“Sebenarnya kita percaya, dan itu semua didasari karena rasa sayang, juga karena kita kangen banget. Itu sebabnya kita maunya kemana dia pergi atau ngapain, harus bilang dulu.” A-cowok
Kalo lo cewek yang kerap merasa begini, mengertilah bahwa mereka—kaum cowok itu, dibesarkan dengan lingkungan yang menuntut mereka sebagai sosok ‘pelindung’ sekaligus ‘pemimpin’. Lalu apa jadinya saat jarak memisahkan dan mereka tidak mampu selalu tahu kegiatan ceweknya, atau mengantar ceweknya dengan selamat hingga tujuan, atau menjemputnya jika kemalaman?

Mereka merasa useless sebagai cowok dan itu—bagi para cowok—sangat menyedihkan dan mengganggu!

Itu sebabnya mereka jadi cerewet soal segala kegiatan yang bisa ‘mengancam’ keselamatan perempuannya. Ia akan memberondongi ceweknya dengan pertanyaan karena hanya itulah ‘proteksi’ yang bisa mereka lakukan.

Jangan pergi ke tempat yang ‘berbahaya’. Jangan pulang ‘kemalaman’. Jangan pergi dengan orang yang ‘tidak dikenal’. Jangan melakukan tindakan yang ‘aneh-aneh’.

Well, coba lihat sisi baiknya, para cowok sebenarnya hanya ingin menjalankan instingnya sebagai pelindung anda, ladies!

Kepercayaan: Hal Terpenting dalam LDR

Kepercayaan, menurut gue, adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, sangat penting, sekaligus sangat sulit dilakukan.

Kenapa gue bilang kepercayaan adalah hal yang sangat penting dan dibutuhkan? Karena kepercayaan itu adalah dasar dari sebuah hubungan yang kuat. Kita boleh curiga—itu sangat manusiawi. Kita tentu bisa meragukan—karena itu toh sebenarnya sebuah insting.
“Jika kita tidak percaya sama dia, nanti pasti kita akan berprasangka sehingga menimbulkan pertengkaran. Lebih bahaya lagi, jika kita tidak percaya, pasti nanti akan timbul juga keinginan-keinginan untuk berpaling.” K-cewek

Tapi lain halnya dengan ‘tidak mempercayai’. Jika si pacar berkata ‘A’ lalu kita menanyakan dan meragukannya—wajar. Tapi jika sudah menyebutnya bohong, itu sama saja dengan melempari wajahnya dengan kotoran—terutama jika ia memang berkata apa adanya. Hal ini akan menimbulkan sakit hati yang terus menerus hingga pada akhirnya kalian akan terus berprasangka satu sama lain—mempertengkarkan nyaris setiap hal kecil karena itu tadi, tidak percaya!

Tapi bagaimana jika pasangan memang sudah pernah berbohong sebelumnya?
“Kepercayaan yang sudah terbentuk memang mudah banget runtuh, dan membangun kepercayaan itu kembali butuh usaha dan juga waktu.” K-cewek
Guys, memang kebohongan itu adalah sebuah racun dalam hubungan—apalagi LDR yang memang sudah sejak awal rentan.

Tapi mari berpikir begini: setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, bukan? Dia mungkin memang pernah berbohong, tapi setiap orang tentu berhak mendapatkan kesempatan kedua, walau bukan ketiga, keempat, dan seterusnya ya ;p

Jika dia pernah membohongi kalian, tetapkan sebuah ‘aturan main’ yang tegas mengenai bagaimana tindakan keras yang akan kamu ambil jika dia berbohong lagi. Katakan saja terus terang bahwa kalian akan sangat sulit percaya setelah ini—tapi kalian akan mencoba kembali percaya, maka kebaikan hati ini tidak sepatutnya dikhianati (lagi)!

Lalu bagaimana menyembuhkan hati kalian yang terluka karena telah dibohongi?

Pertama, terimalah kenyataan bahwa kalian memang dibohongi. Pahamilah alasannya, bukan membenarkan alasannya. Pahamilah kesalahannya sebagai bagian dari ‘kekhilafan’nya. Lalu, jangan sering mengungkit ini. Karena selain akan melukai hati kalian lagi, hal ini hanya akan memperkeruh suasana.

Tempatkanlah posisi kalian sebagai pasangan. Oke, memang sakit hati sekali, tapi lebih baik berpandangan ke depan daripada tersandung karena terus melirik ke belakang, bukan? Bantulah si pasangan untuk selalu berkata jujur pada kalian. Perlakukan ia dengan lebih baik hingga ia sadar bahwa ia tidak pernah pantas menyakiti seseorang sebaik kalian!

Cara Mereka Mengatasinya
Setiap pasangan memiliki cara unik dalam menghadapi pertengkaran atau mengatasi kegalauan akibat LDR-nya. Simak beberapa cara berikut ini, siapa tahu berguna untuk kalian! :D
“Kalau lagi berantem sih, menyibukkan diri biar ademan. Tapi kita punya komitmen untuk tidak punya masalah lebih dari sehari, jadi setiap ada masalah, harus diselesaikan secepatnya agar tidak berlarut-larut!” D-cewek
“Selama LDR-an, kalau marahan aku selalu diemin dia sehari hingga tiga hari, biar sama-sama ngerasain gimana kalau gak ada satu sama lain, yang biasanya bercanda, cerita-cerita, waktu marahan malah jadi sepi. Ya lebih bisa menyadri arti dirinya walau sebatas telfon.” C-cewek
“Si dia dan gue sih punya cara-penyelesaian yang berbeda. Gue butuh waktu ‘cooling down’ sebelum membicarakan masalahnya tanpa emosi, sementara dia tidak akan dingin sebelum masalahnya dibicarakan tuntas. Makanya kita masing-masing berusaha mengambil jalan tengah jika ada pertengkaran, tergantung siapa yang paling emosi saat itu!” Gue ;p

Manfaat LDR

Well, di penghujung artikel (hasek) ternyata jika diulas kembali, LDR itu tidak hanya membawa masalah melulu atau kegalauan melulu, lho. Setelah gue korek-korek dari pada responden, diketahui kalau mereka sebenarnya merasakan adanya keuntungan dari LDR itu.

Yah, Tuhan memang menciptakan suatu ujian demi hasil akhir yang baik, bukan—terutama jika kita mampu mengatasi ujiannya!
 “Sekalinya bisa ketemu bakal seneeeng banget nggak ketulungan. Bahkan hanya ditelfonpun udah seneng banget.” R-cewek.
“Jadi lebih kreatif, karena harus menggunakan segala cara agar bisa mendengar suara atau wajah unyu-nya.” D-cewek
“Gara-gara LDR, rasanya jadi jatuh cinta lagi. Hanya dapat kiriman sms kecil saja sudah senang setengah mati.” K-cewek
“Menurutku malah saat LDR kita malah jadi jarang bertengkar karena intensitas komunikasi yang berkurang. Saat nggak-LDR, lebih banyak ketemu, lebih banyak yang diomongkan, jadi lebih banyak juga masalah yang timbul. “ W-cowok.
“Selain belajar extra sabar dalam segala hal, kita juga bisa memiliki waktu lebih banyak untuk meniti karier masing-masing ke arah lebih serius.” C-cewek

Artikel Terkait

Previous
Next Post »