Ternyata Ada Klub NBA Milik Orang Indonesia

Setelah lima kali pertemuan di Jakarta, Singapura, Los Angeles, dan New York, keputusan Erick Thohir pun bulat. Ia membeli saham Philadelphia 76ers, salah satu klub di National Basketball Association (NBA). Sejak 18 Oktober tahun lalu, Erick resmi tercatat sebagai co-owner klub itu. Bahkan ia tercatat sebagai satu-satunya orang Asia yang menjadi pemilik klub NBA.

Sixers, demikian klub itu biasa disebut, termasuk yang berprestasi di NBA. Sejak franchise ini berdiri pada 1939 (bergabung dengan NBA pada 1949), Sixers sukses meraih tiga kali gelar juara, masing-masing pada 1955, 1967, dan 1983. Klub ini juga pernah melahirkan pebasket legendaris macam Julius Erving, Moses Malone, dan Charles Barkley, untuk menyebut beberapa.

Secara finansial, sejak Erick Thohir ikut di dalamnya, nilai pasar klub itu juga mengalami peningkatan. Bila tahun lalu Sixers bernilai US$ 270 juta, pada saat ini, menurut penilaian Forbes, nilainya setara dengan US$ 314 juta. "Tim ini memang bagus. Ini memang bisnis bagus,'' kata Erick. Selain value, Sixers juga termasuk tim yang diminati penonton. Kenaikan jumlah penontonnya mencapai 40% sejak tahun lalu.

Pencapaian tadi, menurut Erick, tidak lepas dari kebijakan yang diambil manajemen baru. Antara lain, memperpanjang kontrak forward Thaddeus Young dan center Spencer Hawks serta mempertahankan pelatih Doug Collins. Dengan kombinasi itu, prestasi Sixers cukup moncer. Per 6 Februari lalu, klub ini bertengger di peringkat pertama divisi Atlantik dan peringkat ketiga di wilayah timur.

Erick Thohir menjadi bagian dari Sixers berkat ajakan Jason Levine, salah satu pemilik lainnya. Disebut salah satu karena sejak dilepas Comcast-Spectator, klub ini dimiliki lebih dari satu orang. Selain Levine, di Sixers juga ada David Blitzer, Adam Aaron, Martin Geller, David Heller, Travis Hennings, James Lassiter, Marc Leder, Michael Rubin, Art Wrubel, serta pasangan artis Will dan Jada Pinkett Smith.

Ke-11 orang itu menjadi pemilik Sixers melalui enam konsorsium. Erick Thohir juga tidak sendirian sebagai investor. Ia menggandeng Handy Soetodjo, dan keduanya mendirikan konsorsium bernama Indonesia Sports Venture. "Kami merupakan bagian salah satu dari enam konsorsium tadi," kata Erick.

Berapa dana yang digelontor untuk mendapatkan saham Sixers? Erick tidak mau buka kartu. Tetapi, kalau kemudian mereka berdua yang diajak, ada alasan di balik itu. "Kebetulan Levine dan teman-temannya pingin punya partner Asia,'' kata ayah empat anak itu.

Meskipun telah mempersiapkan sejumlah dana, tidak serta-merta Erick dan para pemilik saham lainnya bisa mudah mendapatkan kepemilikan 76ers. Banyak syarat yang ditetapkan NBA yang mesti dipenuhi calon pemilik saham di NBA. Mulai rekam jejak bisnis, seperti jenis bisnis, apakah pernah mengalami kebangkrutan, usaha itu berkaitan dengan judi atau tidak, hingga catatan kriminal hidupnya.

Bahkan NBA menelisik apakah Erick Thohir ikut partai politik, walau ikut atau tidaknya seseorang di dunia politik bukanlah syarat untuk bisa berbisnis di NBA. Erick membaca, pertanyaan itu akan berbuntut panjang, seperti dari mana uangnya berasal. "Pihak NBA tidak hanya ingin punya partner pengusaha dengan banyak uang," ia menegaskan.

Erick merasa beruntung bisa ikut memiliki Philadelphia. Dia dapat belajar tentang pengelolaan klub basket yang telah berbasis bisnis dan profesional. Menurut Erick, dengan mengetahui mekanisme kerja klub, dia dapat mengaplikasikan di dua klub miliknya. ''Menurut saya, ini privilege, yakni (bisa) belajar," katanya.

Keuntungan lain adalah hak khusus untuk mendatangkan klub itu ke Indonesia selama masapre-season. Namun, menurut Erick, ada kendala tempat dalam mendatangkan Sixers. NBA mensyaratkan, negara pengundang harus memiliki stadion indoor berkapasitas minimal 15.000 tempat duduk. Di Indonesia, sayangnya, tidak ada stadion basket yang punya kapasitas sebesar itu. ''Britama (Sport Kelapa Gading --Red.) cuma 5.000," ujarnya.

Selain itu, Erick juga bisa menitipkan pemain Indonesia untuk ikut berlatih di Philadelphia. Untuk yang satu ini, dia mengirim Vincent Rivaldi Kosasih, salah satu center andalan timnas U-16 dengan tinggi 2 meter. ''Bagaimana caranya (Vincent bermain di NBA --Red.), tergantung dia. Saya hanya membuka pintu," katanya. Erick tidak serta-merta bisa menempatkan pebasket Indonesia di Sixers. Ada prosedur yang mesti dilalui untuk menentukan pemain di klub-klub NBA, yakni melalui sistem draft.

Meskipun baru membeli saham klub basket NBA, Erick bukan anak kemarin sore di dunia basket ini. Sejak 1999, ia telah menggeluti basket. Lewat Yayasan Mahaka yang berada di bawah payung Mahaka Group, Erick mengelola dua klub basket, Mahaka Satria Muda dan Mahaputri.

Di tangan Erick, Satria Muda menjelma menjadi kekuatan utama kompetisi basket nasional dan meraih gelar juara Kobatama (sekarang National Basketball League --NBL) pada 1999. Padahal, sejak berdiri pada Oktober 1994, klub asal Jakarta itu tak pernah meraih gelar.

Meningkatnya prestasi Satria Muda itu, menurut Erick, karena ia memadukan olahraga dengan pendidikan. "Kami membuat konsep memberikan beasiswa, mendidik karakter, dan jago main basket," tuturnya. Sebagai klub tertangguh di Indonesia, Satria Muda memasok enam dari 12 pemain basket yang turun di ajang SEA Games 2011.

Menurut pengamat basket, Eko Widodo, kiprah Erick Thohir di Phladelphia 76ers itu akan berdampak baik pada perbasketan nasional, terutama karena NBA merupakan kompetisi basket terbaik di dunia. Adanya orang Indonesia di sana akan berdampak kemajuan basket di Tanah Air. "Budaya basket Indonesia akan terangkat," katanya kepada M. Diaz Bonny S. dari Gatra.

Eko sepakat dengan Erick bahwa ke depan Sixers bakal moncer. Ini tidak lain karena klub itu juga ditunjang tim muda yang sangat baik dan bertalenta. Untuk menjadi juara NBA memang perlu waktu. "Tapi untuk masuk ke semifinal di wilayah timur sangat berprospek," ujarnya.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »