Kebudayaan Yang Memuja Kemaluan Pria

Artikel ini tidak bermaksud menghina agama manapun, apalagi ada beberapa sekte yang ada didalam artikel ini merasakan diri sebagai bagian dari agama yang ada. Tidak semua sekte ini memandang penis sebagai penis, tapi lebih sebagai simbol kesuburan, atau simbol dari energi positif, atau simbol dari salah satu belahan dunia sebagai pasangan dari Ibu Pertiwi.... 
Banyak hal yang bisa kita pandang dan mengerti dari sekte ini, asal kita mau memandang dengan lebih bijaksana... 


5. Lingam

(atau Lingga) adalah simbol dari bagian penting dari tubuh Dewa Siwa, sepenting apa?  Penting banget.. . Siwa adalah dewa perusak (kok saya lebih suka pake kata pembersih) dan perubahan. Dalam mitologi yang dipercaya oleh sekte ini, ketika Siwa mati, Dewi Kali akan turun, merobek tubuh dan memakan organ tubuhnya, kemudian memajang bagian penting tadi untuk melengkapkan siklus penciptaan. 


Akhirnya, dalam sekte ini, seringkali yang ditampilkan hanyalah bagian penting ini saja, untuk sebagai simbol awal penciptaan sekaligus berakhirnya satu siklus penciptaan. Lingam selalu ditampilkan berpasangan dengan Yoni, sebagai bagian yang mewakili sisi ibu pertiwi, yang menyatakan bahwa tidak akan ada kehidupan tanpa ada penyatuan lingam dan yoni.
Pengikut sekte ini lumayan besar, diperkirakan ada 100 juta pengikut, yang memfokuskan pemujaan kepada Siwa, Kali dan Linga
Tradisi pemujaan: lumayan terus terang... sih. Pertama, anda harus membasahi lingam, baik dengan air atau dengan susu, kemudian anda memanjatkan isi hati anda. Pada saat bermeditasi memanjatkan doa, ada lingam kecil yang ada ditangan, yang anda pegang dan di usap2 sambil bermeditasi.


4. Kuil Mara Kannon, Tawarayama, Jepang.
Menurut legenda, 450 tahun lalu, dua orang politisi di Tawarayama sangat saling benci sampai akhirnya merka berdua saling memberi ancaman. Untuk melindungi keluarganya, Mr. Oji, menyamarkan anak lelakinya sebagai perempuan, dan menyembunyikannya di kuil. Musuh Mr. Oji, menemukan anak ini dan akhirnya memengal kepalanya, dan bukan hanya kepala, sekaligus kemaluan anak ini juga dipotongnya.


Mendengar pembunuhan ini, para penduduk jatuh simpati dan membuat penis mainan untuk arwah anak ini. Dari sinilah, tradisi ini berkembang. Sampai sekarang, jika anda berkesempatan main ke daerah tersebut, anda akan menemukan bahwa hutan disekitar kuil ini dipenuhi dengan tugu batu dan kayu berbentuk 'Johnny'
Pengikut sekte ini besar juga, ribuan orang setiap tahunnya. Kuil ini adalah tempat yang populer bagi kalangan pria yang mengalami masalah seksual, dan demikian juga pasangan mereka!
Tradisi pemujaan: Selain pemujaan biasa di kuil, anda dapat membeli penis mainan, dan diletakkan di kuil tersebut sebagai persembahan. Tips: Tulis permintaan anda di penis mainan tadi, dan tinggalkan di kuil.. akan lebih 'manjur'


3. Festival Kesuburan Hounen, Komaki, Jepang.

Banyak ahli sejarah percaya bahwa penyembahan penis sebagai simbil kesuburan mulai dikenal di Asia Timur dan Tengah sejak zaman pra sejarah. Festival ini sudah dirayakan sekian lama, sampai sejarah dibelakang festival ini sudah kabur.
Tradisi: 
15 Maret, jam 2 sore, adalah puncak acara, tapi mulai jam 10 pagi, anda sudah akan dapat menikmati sake gratis. Kemudian pada jma 2 sore, para pengunjung akan berjalan ke Kuil Shinmei. Para petinggi agama kemdian memberkati pengunjung, dan bersama-sama membawa penis kayu seberat 300 kuintal (sepanjang sekitar 3 meter) ke kuil Tagata Jinja. Di kuil ini kemudian si penis tadi diletakkan, dan doa untuk kesuburan selama setahun kedepan di panjatkan.


2. Min, dewa Mesir
 
Min adalah dewa kesuburan Mesir Kuno. Dalam seni dan patung Mesir, Min selalu ditunjukkan memegang 'Adik Kecil' dengan tangan kiri dan alat pemisah gabah dari kulitnya. Min sempat menjadi dewa utama pada masa Kerajaan Tengah (sekitar 2050 SM) dan sampai masa Kerajaan Baru (sekitar 1550 SM) adalah figur utama dalam Upacara Penobatan Raja di setiap penobatan Raja (Firaun) baru. 
Tradisi Pemujaan: Pada saat anda mengunjungi kuil Min, para pemuja akan menggosok tanaman Lactuca serriola, yang ketika digosok akan mengeluarkan cairan putih. Cairan ini mengandung senyawa yang disebut lactucarium, yang dalam dosis besar akan memiliki efek yang sama seperti kokain. 


1. Petir Menyala

Gambar diatas adalah gambar Drukpa Kunley, seorang biksu yang hidup di Bhutan. Selama hidup semenjak ia menjadi biksu di masa muda, ia berkelana dan mengajarkan kebijaksanaan yang diterimanya. Cara dan ajarannya cukup unik, bahwa seseorang akan mencapai kesempurnaan dengan menggunakan 'Petir Menyala' tadi. Petir menyala ini adalah nama lain dari 'si Willy'  --> Maap ya Withink.. 


Nah.. karena ketenaran, akhirnya banyak wanita yang mau untuk dibawa ke 'kesempurnaan' oleh Kunley, yang meminta bayaran berupa arak. Dan selama proses 'perjalanan ke kesempurnaan' tadi sampai selesai, Kunley banyak memberikan nasihat mengenai ketenangan jiwa, keseimbangan karma, dan cara mencapai kesempurnaan sejati. Ia mengajarkan bahwa kenikmatan seksual dan mabuk adalah salah satu cara untuk membuang semua ilusi dunia dan menjadi satu dengan diri sendiri.
Hampir 80% penduduk Bhutan memajang simbol petir menyala ini sebagai simbol keberuntungan, dan sering dipajang di luar rumah untuk mengusir roh jahat.
Tradisi Pemujaan: Pada saat anda mengunjungi kuil Chimi Lhakhang, sekitar tiga jam dari Thimphu, ibukota Bhutan, anda akan bertemu dengan pertapaan ini. DI pertapaan ini, anda akan menjumpai 'Petir Menyala' dari kayu, yang akan digunakan untuk memberkati para peziarah dengan menjitak kepala peziarah. Berkatnya? kekuatan penyembuh!!
sumber

Artikel Terkait

Previous
Next Post »